Karena sejarah kesehatan yang kurang sempurna pada waktu kecil, saya tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan outdoor seperti hiking atau trekking pada waktu SMP, SMA maupun kuliah. Dokter sudah wanti-wanti agar saya tidak bergelut dengan kegiatan yang memakai tenaga fisik yang ekstrem. Kalau dengar ada teman yang cerita ‘gue naik gunung dulu ya’ saya menanggapinya dengan reaksi datar tanpa ada rasa ingin tahu ‘kenapa sih naik gunung, ada apa disana?
Tahun 2001 saya mengunjungi Richard di Seattle untuk merayakan Natal bersama. Pada masa liburan itu, Richard membuat rencana untuk mengajak saya mendaki gunung yang sangat iconic di Pacific Northwest yaitu Gunung Rainer. Persiapan pendakian perdana saya ini cukup heboh. Saya yang awam dengan dunia petualangan mulai bekenalan dengan toko serba lengkap yang menyediakan segala macam keperluan dan alat-alat untuk kegiatan outdoor bernama REI (www.rei.com)
Apa saja sih yang diperlukan kalau kita mau naik gunung bersalju pada musim dingin ? Inilah pernak perniknya :
Thermal underwear - pakaian dalam termal ini perlu sekali untuk menghangatkan tubuh
Kaos tipis dipakai diatas thermal underwear
Fleece jacket- jaket terbuat dari bulu domba
Stocking cap -topi rajut untuk musim dingin, bisa terbuat dari wool atau fleece
Gore-Tex hiking pants
Gore-Tex winter jacket
Hiking Boot and Sock
Hiking Gloves
Gaiters - adalah pelindung kaki terbuat dari bahan poliester yang dikenakan diatas sepatu dan celana panjang bagian bawah.
Trekking /Hikking poles - adalah tongkat yang dipakai oleh pendaki untuk menjaga stabilitas khususnya di medan yang suit.
Dihari H setelah selesai mendaki kurang lebih 5 jam (pulang pergi), saya baru bisa memahami arti dari istilah No Pain, No Gain. Karena mendaki keatas gunung bersalju itu ternyata painful banget (buat saya sebagai pemula). Udara yang dingin (dibawah 0 Celcius), jalan setapak yang menanjak saya jalani pelan pelan dengan otot-otot kaki dan betis yang belum kuat. Karena saya bukan atlit :) dan tidak olah raga secara konsisten, nafas ini terasa sangat pendek dan selalu terengah-engah . Selama petualangan ini berlangsung, selalu ada pikiran yang mengganggu ‘haduh, mana bisa saya sampai keatas sana? Kayaknya ngga bakal kuat’. Nada pesimis ini sering muncul, namun dorongan hati dan rasa ingin tahu saya jauh lebih besar sehingga walaupun badan terasa babak belur dan ‘mrotoli saya tetap jalan maju.
Tahun 2003 pada musim dingin, Ibu dan adik beserta keluarganya datang dan kami main salju di kaki gunung Rainer
Tahun 2014, Richard dan saya mendaki gunung Rainter pada musim panas. Ckukup dengan celana pendek saja.
Setelah berjalan kurang lebih 2,5 jam, akhirnya kami berhenti untuk istirahat dan makan siang power bar dan apel. Kami tidak mendaki sampai puncak paling atas, tapi cukup lumayan tinggi sehingga bisa melihat pemandangan keliling 360 derajad. Kontras antara langit biru yang cerah dan gunung putih tertutup salju seperti kapas dan sinar kuning matahari yang bersinar terang menciptakan pemandangan yang sangat fenomenal. Perpaduan warna biru, putih dan kuning ditampilkan dengan sangat cantik - sebuah lukisan megah ciptaan Yang Maha Kuasa. Ini pertama kali saya menyaksikan keindahan alam yang magnificant di atas gunung, suatu pengalaman luar biasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya mulai mengerti kenapa teman saya kuliah yang ikut Mapala UI hobi sekali naik gunung. Ada kesejukan dalam hati dan rasa takjub ‘in awe’ pada setiap sudut pandang yang saya nikmati di Gunung Rainer ini. Tengok kekiri dan kekanan, lihat kedepan dan belakang, semua indah dan spektakular. Pengalaman tak terlupakan ini membawa saya pada petualangan-petualangan hiking menarik selanjutnya. Jadi ingat pepatah jaman waktu saya sekolah dulu - Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Buat saya, mendaki gunung ibaratnya sama seperti pepatah itu.
Selamat menikmati…